Manajemen Risiko Pada Transportasi Ojek Online Di Masa Pandemi Virus Corona (Covid-19)

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-Cov-2) yang lebih dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular kemanusia. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Infeksi virus corona disebut dengan COVID-19 (Corona Disease2019) dan pertama kali di temukan di Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar kehampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan. Gejala awal infeksi virus Corona adalah gejala flu yang dimana mengalami demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus corona. Ketika diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia untuk menghentikan penyebaran virus corona (COVID-19) maka semua kegiatan akan dibatasi salah satunya adalah pelanggaran ojek online seperti grab dan gojek yang mengangkut penumpang. Aturan PSBB ini tertuang dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 tahun 2020 pasal 15 yang berbunyi : "layanan ekspedisi barang, termasuk sarana angkutan roda dua berbasis aplikasi dengan batasan hanya untuk mengangkut barang dan tidak untuk penumpang,".

Dengan adanya pengumuman PSBB tersebut, ini memberikan dampak pada kehidupan manusia, salah satunya di bidang transportasi yaitu transportasi Ojek Online. Ojek Online adalah sebuah transportasi umum yang menggunakan internet untuk memesannya. Ojek online merupakan sebagai media yang tepat untuk mengantarkan manusia, membelikan makanan dan mengantarkan makanan menuju tempat tujuan. Dengan kemajuan teknologi pada saat ini ojek online bisa di dapatkan dengan mudah melalui smartphone yang kita miliki dengan menggunakan aplikasi Uber, Grab, dan Gojek. Dengan adanya kejadian Covid-19 perlunya diidentifikasi manajemen risiko terhadap transportasi ojek online.

Manajemen risiko adalah metode sistematis formal dari manajemen yang berkonsentrasi pada identifikasi dan control atau kegiatan yang mempunyai potensi yang menyebabkan perubahan. Manajemen risiko juga merupakan proses formal oleh factor risiko sebuah system identifikasi, penaksiran dan penetapan. Pengendalian risiko adalah metode pengendalian risiko yang tidak melibatkan uang/danan. Metode ini terdiri atas 3 tahapan, yaitu sebelum, pada saat dan sesudah terjadi kontak dengan kerugian. Disini kejadian-kejadian yang mengakibatkan kerugian keuangan diupayakan dikurangi kemungkinan terjadinya dan besarnya kerugian keuangan yang terjadi diminimalkan. Berikut adalah tahapan yang pada manajemen risiko yang harus diperhatikan :

  - Mengidentifikasi Risiko

Langkah pertama dalam Tahapan Manajemen Risiko adalah mengidentifikasikan Risiko. Kita perlu memahami dan menemukan faktor risiko yang terlibat dalam suatu keputusan. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menemukan risiko-risiko dalam suatu suatu keputusan yang akan diambil. Kita perlu mencatat semua poin-poin risiko dan menyiapkannya menjadi sebuah daftar risiko untuk keputusan tersebut.

 - Menganalisis Risiko

Setelah menemukan dan memahami risikonya, perlu menaganlisis riskonya. Menentukan kemungkinan dan konsekuensi dari setiap risiko tersebut. Kita perlu mengembangkan pemahaman tentang potensi dan sifat risikonya yang akan memengaruhi keberhasilan suatu proyek atau bisnis. Contohnya, Ada risiko yang dapat membuat seluruh bisnis terhenti, sementara ada risiko yang hanya akan menjadi ketidaknyamanan kecil.

 - Mengevaluasi Risiko atau peringkatan Risiko

Setelah dianalisis Risiko-risiko tersebut perlu diberikan peringkat dan prioritas. Sebagian besar solusi manajemen risiko memiliki kategori risiko yang berbeda, tergantung pada tingkat keparahan risiko tersebut. Risiko yang hanya dapat menyebabkan beberapa ketidaknyamanan dinilai rendah (low risk), sedangkan risiko yang dapat menyebabkan kerugian besar atau bencana dinilai lebih tinggi (high risk). Penentuan risiko ini sangat penting karena akan menentukan cara penanganannya serta sumber daya yang akan digunakannya pada penanganan risiko tersebut. Contohnya, pada beberapa risiko tingkat rendah, penanganannya mungkin tidak memerlukan intervensi manajemen tingkat atas. Namun apabila terdapat satu risiko dengan peringkat tertinggi maka diperlukan intervensi segera dari manajemen tingkat atas.

 - Menanggapi risiko

Tahapan ini juga disebut dengan Risk Response Actions atau Tindakan Respon Risiko. Setelah memperhitungkan setiap risikonya, kita perlu memutuskan bagaimana merespon setiap risiko.

 - Meninjau dan memantau risiko

Tidak semuanya berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena itu, diperlukan peninjauan ulang dan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya perubahan faktor lainnya yang akan menyebabkan berubahnya risiko yang akan dihadapi sehingga mengharuskan kita untuk merubah perencanaan manajemen risiko kita lagi.

 

Dengan demikian, berikut beberapa contoh risiko serta analisis, pembahasan dan penanganan setiap risiko yang terjadi pada ojek online selama masa pandemi Covid-19 adalah sebagai berikut ini :

 1. Pengemudi ojek online rentan dengan terkena virus Covid-19 

    Pengemudi ojek online akan selalu bekerja dikarenakan mengharuskan mereka dalam mencari nafkah untuk melangsungkan kehidupan mereka. Dengan beraktivitas setiap hari diluar rumahsetiap hari dan mengalami kecapekan dan masuk angin sehingga menyebabkan imun mereka menjadi turun akan memberikan dampak negative kepada mereka dikarenakan mereka bisa saja dengan mudah terkena virus Covid-19. Risiko ini memiliki tingkat sangat tinggi dikarenakan mereka selalu beraktivitas diluar rumah dan bisa berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal. Adapun hal yang bisa dilakukan pengemudi agar dapat terhindar dari terkenanya virus covid-19 (mengurangi risiko ini) adalah para pengemudi diwajibkan membawa handsinitizer dan memakai masker setiap saat, dan mengganti masker tersebut selama 4 jam sekali, dan menjaga jarak terhadap orang lain.

          2. Pengemudi ojek online mengalami penurunan pendapatan

Dimasa pandemi Covid-19 pemerintah mewajibkan program Work From Home, dimana setiap aktivitas dilakukan di rumah agar terhindar dari virus covid-19,seperti melakukan pekerjaan kantor dirumah, pekerjaan sekolah dirumah. Sehingga, hal ini akan memberikan dampak kepada pendapatan para pengemudi ojek online dikarenakan semakin berkurang. Para pengemudi ojek online hanya bisa mengharapkan pendapatan dari pesan antar makanan konsumen. Dengan demikian juga, risiko ini dapat dikatakan dengan tingkatrisiko sangat tinggi. Adapun hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko ini terjadi adalah sebaiknya para pengemudi ojek online beralih kearah pesan antar makanan online, dikarenakan aktivitas manusia yang dibutuhkan saat ini adalah makanan yang praktis jadi untuk bisa mendapatkannya bisa dipesan melalui online , dengan demikian pendapat para ojek online akan bisa bertambah.

3. Pengemudi Ojek online bisa menyebaran virus Covid-19

Setiap para konsumen yang selalu berhubungan dengan pengemudi ojek online misalnya dalam memesan makanan. Para konsumen bisa terkena virus covid-19 dikarenakan pengemudi ojek online yang awalnya sudah terkena virus covid-9 bisa menyebarkan virus tersebut ke para konsumen pada saat mengantarkan makanan ke lokasi konsumen. Hal ini bisa mengalami tingkat risiko yang sangat tinggi dikarenakan bisa saja setiap saat para pengemudi terkena virus corona tanpa diketahui ciri-ciri atau efek yang terkena dari virus covid-19. Adapun hal yang bisa dilakukan dalam mengurangi risiko ini terjadi adalah para pengemudi ojek online selalu melakukan pengecekan suhu ataupun rapid test, menggunakan masker, dan menggunakan handsinitizer pada saat mengantarkan barang kepada konsumen sehingga kecil kemungkinan para pengemudi ojek online akan menyebarkan virus covid-19.

Dengan demikian, apabila virus corona masih ada dan vaksin covid-19 belum ditemukan di harapkan para pengemudi ojek online tetap menjaga kesehatannya dan selalu memeriksakan dirinya (mengecek suhu dan rapid test), menggunakan masker, menggunakan handsinitizer, menjaga jarak sehingga bisa mengindari risiko yang terjadi pada pengemudi ojek online dan para pengemudi ojek online juga tetap bisa dalam mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup khususnya dimasa pandemic covid-19.


Comments

  1. Mantap artikel nya dan ada manfaatnya buat masyarakat.

    ReplyDelete
  2. Artikelnya bagus & sangat bermanfaat buat kita

    ReplyDelete
  3. Artikelnya bagus & sangat bermanfaat buat kita

    ReplyDelete
  4. artikel yang mampu memberi solusi pada permasalahan seperti gojek,grab,platform lain nya.smoga artikel ini dapat membantu dan dikembangkan lebih lanjut

    ReplyDelete
  5. manajemen resiko memang sangat penting bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari pun sangat berguna

    ReplyDelete
  6. Menarik sekali untuk dibaca.

    ReplyDelete
  7. Good enough article to read brads

    ReplyDelete
  8. waaah artikel nya menarik dan juga mudah dipahami
    namun saya ingin bertanya
    bidang apa saja ya yg bisa jadi objek dari manajemen ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasi atas komentarnya dan sudah memberikan pertanyaan...
      Sebagai contoh lain dari Manajemen risiko adalah bisa diaplikasikan ke sebuah proyek untuk melihat risiko yang akan terjadi sehingga dapat di tangani sehingga tidak dapat dirugikan..

      Delete
    2. artikelnya menarik, ini sangat berguna bagi tukang ojek online

      Delete
  9. Menarik sekali dan sangat membantu bang :)

    ReplyDelete
  10. wahh keren artikelnya yaa, dan tentunya bermanfaat bagi kita sebagai masyarakat

    ReplyDelete
  11. Artikelnya sangat bermanfaat, ditunggu artikel selanjutnya ya..

    ReplyDelete
  12. Artikelnya bermanfaat sekali Indra, menambah wawasan saya

    ReplyDelete
  13. saya setuju dengan kaka, apalagi ojek online sangat dibutuhkan pada saat keaadann saat ini

    ReplyDelete
  14. Bermanfaat sekali artikelnya

    ReplyDelete

Post a Comment